Terapi
humanistik eksistensial
1. Konsep
Menurut
pandangan eksistensialis, kita mampu untuk sadar akan diri sendiri, yaitu
kapasitas yang membedakan diri kita dengan makhluk lain yang membuat kita
mengenang dan mengambil keputusan. Dengan kesadaran ini kita menjadi makhluk
yang bebas yang bertanggungjawab untuk memilih cara hidup kita, dan oleh
karenanya kita mempengaruhi nasib kita sendiri. Kesadaran akan kebebasan dan
pertanggungjawaban ini melahirkan kecemasan eksistensial, yang merupakan
karakteristik manusia yang lain.
Terapi
eksistensial menempatkan nilai penting sentral pada hubungan antar pribadi.
Terapi itu percaya bahwa pertumbuhan klien terjadi melalui pertemuan yang asli
ini. Bukan teknik yang digunakan oleh terapislah yang menyebabkan terjadinya
perbedaan terapeutik; melainkan kualitas hubungan klien terapis itulah yang
member kesembuhan.
2.
Unsur-unsur
terapi
a. Munculnya
Masalah atau Gangguan
Ketika kondisi-kondisi inti manusia mulai berubah, serta munculnya kecemasan serta timbul pemikiran bahwa hidup tidak abadi, tidak bisa mngaktualisasipotensi diri dan tidak bisa mnyadari potensi diri yang dimiliki.
Ketika kondisi-kondisi inti manusia mulai berubah, serta munculnya kecemasan serta timbul pemikiran bahwa hidup tidak abadi, tidak bisa mngaktualisasipotensi diri dan tidak bisa mnyadari potensi diri yang dimiliki.
b. Tujuan
Terapi
Sasaran dasar dari banyak sistem terapeutik adalah membuat indivisu mampu meneriam kebebasan yang menimbulkan kekaguman untuk bertindak serta tanggung jawab yang harus dipikul atas tindakan itu. Eksitensialis berpendapat bahwa orang tidak bisa melarikan diri dari kebebasan, dalam arti bahwa kita selalu dituntut untuk memikul tanggung jawab. Terapi eksistensial berusaha agar klien bisa keluar dari belenggu yang kuat itu dan mau menantang kecendrungan mereka yang sempit dan bersifat memaksa, yang merupakan ganjalan dari kebebasan mereka.
Sasaran dasar dari banyak sistem terapeutik adalah membuat indivisu mampu meneriam kebebasan yang menimbulkan kekaguman untuk bertindak serta tanggung jawab yang harus dipikul atas tindakan itu. Eksitensialis berpendapat bahwa orang tidak bisa melarikan diri dari kebebasan, dalam arti bahwa kita selalu dituntut untuk memikul tanggung jawab. Terapi eksistensial berusaha agar klien bisa keluar dari belenggu yang kuat itu dan mau menantang kecendrungan mereka yang sempit dan bersifat memaksa, yang merupakan ganjalan dari kebebasan mereka.
c. Peran
Terapis
Yang harus diperhatiakan oleh terapis eksistensial adalah memahami dunia subjektif si klien agar bisa menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan pilihan baru. Fokusnya adalah pada situasi hidup klien pada saat itu, dan buka pada menolong klien agar bisasemsuh dari situasi masa lalu (May & Yalom, 1989). Yang terutama diperdulikan oleh terapis eksistensial aldalah perilaku klien untuk melepaskan diri dari tanggung jawab; klien diajak untuk menerima pertanggung jawaban pribadi. Terapis yang berorientasi eksistensial biasanya menangani orang-orang yang mengalamai apa yang dikatakan keberadaan terbatas.klien semacam ini memiliki kesadaran yang terbatas tentang dirinya sendiri dan biasanya tidak bisa melihat sifat-sifat problema yang dihadapinya. Tugas sentral dari terapis adalah langsung mengkonfrontasikan klien ini dengan cara hidup mereka dalam keberadaan terbatas ini dan menolong mereka untuk bisa menyadari bahwa mereka sendiri ikut berperan dalam menciptakan kondisi semacam itu.
Yang harus diperhatiakan oleh terapis eksistensial adalah memahami dunia subjektif si klien agar bisa menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan pilihan baru. Fokusnya adalah pada situasi hidup klien pada saat itu, dan buka pada menolong klien agar bisasemsuh dari situasi masa lalu (May & Yalom, 1989). Yang terutama diperdulikan oleh terapis eksistensial aldalah perilaku klien untuk melepaskan diri dari tanggung jawab; klien diajak untuk menerima pertanggung jawaban pribadi. Terapis yang berorientasi eksistensial biasanya menangani orang-orang yang mengalamai apa yang dikatakan keberadaan terbatas.klien semacam ini memiliki kesadaran yang terbatas tentang dirinya sendiri dan biasanya tidak bisa melihat sifat-sifat problema yang dihadapinya. Tugas sentral dari terapis adalah langsung mengkonfrontasikan klien ini dengan cara hidup mereka dalam keberadaan terbatas ini dan menolong mereka untuk bisa menyadari bahwa mereka sendiri ikut berperan dalam menciptakan kondisi semacam itu.
3.
Teknik
terapi
Seperti yang telah kita lihat, pendekatan
eksistensial tidak seperti kebanyakan terapi yang lain oleh karena pendekatan
ini memiliki perangkat teknik yang siap pakai. Pendekatan ini juga bisa menyertakan
teknik dari terapis kognitif – behaviorial.
1.
Kapasitas untuk sadar akan dirinya :
implikasi konseling.
Kesadaran dapat
dikonseptualisasi seperti berikut : bayangkan Anda sedang menyusuri lorong yang
panjang dengan banyak pintu disisi kiri kanannya. Bayangkan Anda ada pilihan
untuk membuka beberapa pintu itu, entah hanya setengah terbuka atau terbuka
lebar-lebar, atau membiarkannya tetap tertutup. Mungkin apabila Anda membuka
salah satu pintu Anda tidak senang dengan apa yang Anda lihat didalamnya. Tetapi
ada juga kemungkinan Anda lihat kamar yang berisi sesuatu yang indah. Kita bisa
memilih untuk mengembangkan atau membatasi kesadaran itu. Oleh karena kesadaran
diri itu merupakan akar dari kapasitas manusia pada umumnya, maka keputusan
untuk mengembangkannya merupakan hal yang fundamental bagi pertumbuhan manusia.
2.
Kebebasan dan tanggungjawab : implikasi
konseling.
Terapis eksistensial
terus menerus mengarahkan fokus pada pertanggungjawaban klien atas situasi
mereka. Mereka tidak membiarkan klien menyalahkan orang lain, menyalahkan
kekuatan dari luar. Apabila klien tidak mau mengakui dna menerima
pertanggungjawaban bahwa sebenarnya mereka sendirilah yang menciptakan situasi
yang ada, maka sedkit saja motivasi mereka untuk ikut terlibat dalam usaha
perubahan pribadi. Terapis membantu klien dalam menemukan betapa mereka telah
menghindari kebebasan dan membangkitkan semangat mereka untuk mengambik resiko
dengan menggunakan kebebasan itu.
3.
Usaha untuk mendapatkan identitas dan
bisa berhubungan dengan orang lain: implikasi konseling.
Orang yang mencari
terapi sering merasa resah akan hilangnya keribadian atau menjadi asing dengan
diri mereka sendiri. Mereka mungkin mengatakan bahwa mereka telah kehilangan
pengarahan-pengarahan yang berasal dari dalam diri mereka sendiri, karena
mereka terperangkap dalam kehidupan yang dirancang oleh orang lain. Dalam usaha
mereka untuk menyenangkan orang lain dan mendapatkan persetujuan, yang sering
mereka temukan adalah bahwa mereka tidak diterima oleh orang lain maupun oleh
diri sendiri. Pada saat berjalannya proses pemberian identitas kita dengan
mendasarkan diri pada apa kata orang, yang sebenarnya terjadi adalah bahwa kita
menjadi orang asing terhadap diri kita sendiri.
4.
Pencarian makna : implikasi konseling
Terapis eksistensial
cendrung untuk lebih menganggap eskistensi yang terbatas sebagai suatu kondisi
yang membuat orang ingin mendapatkan terapi, dan bukan sebagai penyakit dan
psikopatologi. Orang yang menjalani kehidupan yang secara psikologis serba
terbatas memiliki kesadaran pribadi yang hanya terbatas; banyak dari potensi
mereka terkunci; mereka anggap hidup ini menjemukan dan tidak bermakna, dan
mereka sering bertanya-tanya apakah ini semua yang ada dalam hidup ini.
Ketidakbermaknaan dalam hidup membawa ke kekosongan bak benda yang tidak ada
isinya, suatu kondisi yang oleh Frank disebut vakum eksistensial.
5.
Kecemasan sebagai kondisi dalam hidup:
implikasi konseling
Kecemasan eksistensial
adalah rasa keresahan yang kita alami manakala kita menjadi sadar bahwa kita
menjadi yang bisa diandalkan oleh diri kita sendiri akan apa yang akan terjadi
karena keberadaan kita. Karena kecemasan eksistensial membuat kita tidak nyaman
dan oleh karena pertanggungjawaban pribadi itu berat, kita ada kecendrungan
untuk menghindar dari kecemasan inidan mengingkari pertanggungjawaban atas apa
yang terjadi terhadap keberadaan kita.
6.
Kesadaran akan maut dan ketiadaan :
implikasi konseling
Hidup dan mati itu
saling bertautan. Agar bisa tumbuh kita harus ada kemauan untuk membiarkan
beberapa dari masa lalu kita. Sebagian dari kita harus mati apabila dikehendaki
munculnya dimensi baru dari keberadaan kita. Kita tidak bisa melekat pada aspek
neurotik dari masa lalu kita dan pada saat yang bersamaan mengharapkan sisi
yang lebih kreatif dari kita untuk bekembang.
Corey, Gerald. (1995). Teori dan
Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Edisi ke-4. Semarang: IKIP Semarang
Press.
Corey, Gerald. (2005). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.
Corey, Gerald. (2005). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar