Sabtu, 11 April 2015

pertemuan 2, tugas 2



Terapi humanistik eksistensial
1.      Konsep
Menurut pandangan eksistensialis, kita mampu untuk sadar akan diri sendiri, yaitu kapasitas yang membedakan diri kita dengan makhluk lain yang membuat kita mengenang dan mengambil keputusan. Dengan kesadaran ini kita menjadi makhluk yang bebas yang bertanggungjawab untuk memilih cara hidup kita, dan oleh karenanya kita mempengaruhi nasib kita sendiri. Kesadaran akan kebebasan dan pertanggungjawaban ini melahirkan kecemasan eksistensial, yang merupakan karakteristik manusia yang lain.
Terapi eksistensial menempatkan nilai penting sentral pada hubungan antar pribadi. Terapi itu percaya bahwa pertumbuhan klien terjadi melalui pertemuan yang asli ini. Bukan teknik yang digunakan oleh terapislah yang menyebabkan terjadinya perbedaan terapeutik; melainkan kualitas hubungan klien terapis itulah yang member kesembuhan.
2.      Unsur-unsur terapi
a.       Munculnya Masalah atau Gangguan
Ketika kondisi-kondisi inti manusia mulai berubah, serta munculnya kecemasan serta timbul pemikiran bahwa hidup tidak abadi, tidak bisa mngaktualisasipotensi diri dan tidak bisa mnyadari potensi diri yang dimiliki.
b.      Tujuan Terapi
Sasaran dasar dari banyak sistem terapeutik adalah membuat indivisu mampu meneriam kebebasan yang menimbulkan kekaguman untuk bertindak serta tanggung jawab yang harus dipikul atas tindakan itu. Eksitensialis berpendapat bahwa orang tidak bisa melarikan diri dari kebebasan, dalam arti bahwa kita selalu dituntut untuk memikul tanggung jawab. Terapi eksistensial berusaha agar klien bisa keluar dari belenggu yang kuat itu dan mau menantang kecendrungan mereka yang sempit dan bersifat memaksa, yang merupakan ganjalan dari kebebasan mereka.
c.       Peran Terapis
Yang harus diperhatiakan oleh terapis eksistensial adalah memahami dunia subjektif si klien agar bisa menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan pilihan baru. Fokusnya adalah pada situasi hidup klien pada saat itu, dan buka pada menolong klien agar bisasemsuh dari situasi masa lalu (May & Yalom, 1989). Yang terutama diperdulikan oleh terapis eksistensial aldalah perilaku klien untuk melepaskan diri dari tanggung jawab; klien diajak untuk menerima pertanggung jawaban pribadi. Terapis yang berorientasi eksistensial biasanya menangani orang-orang yang mengalamai apa yang dikatakan keberadaan terbatas.klien semacam ini memiliki kesadaran yang terbatas tentang dirinya sendiri dan biasanya tidak bisa melihat sifat-sifat problema yang dihadapinya. Tugas sentral dari terapis adalah langsung mengkonfrontasikan klien ini dengan cara hidup mereka dalam keberadaan terbatas ini dan menolong mereka untuk bisa menyadari bahwa mereka sendiri ikut berperan dalam menciptakan kondisi semacam itu.
3.      Teknik terapi
       Seperti yang telah kita lihat, pendekatan eksistensial tidak seperti kebanyakan terapi yang lain oleh karena pendekatan ini memiliki perangkat teknik yang siap pakai. Pendekatan ini juga bisa menyertakan teknik dari terapis kognitif – behaviorial.
1.      Kapasitas untuk sadar akan dirinya : implikasi konseling.
Kesadaran dapat dikonseptualisasi seperti berikut : bayangkan Anda sedang menyusuri lorong yang panjang dengan banyak pintu disisi kiri kanannya. Bayangkan Anda ada pilihan untuk membuka beberapa pintu itu, entah hanya setengah terbuka atau terbuka lebar-lebar, atau membiarkannya tetap tertutup. Mungkin apabila Anda membuka salah satu pintu Anda tidak senang dengan apa yang Anda lihat didalamnya. Tetapi ada juga kemungkinan Anda lihat kamar yang berisi sesuatu yang indah. Kita bisa memilih untuk mengembangkan atau membatasi kesadaran itu. Oleh karena kesadaran diri itu merupakan akar dari kapasitas manusia pada umumnya, maka keputusan untuk mengembangkannya merupakan hal yang fundamental bagi pertumbuhan manusia.
2.      Kebebasan dan tanggungjawab : implikasi konseling.
Terapis eksistensial terus menerus mengarahkan fokus pada pertanggungjawaban klien atas situasi mereka. Mereka tidak membiarkan klien menyalahkan orang lain, menyalahkan kekuatan dari luar. Apabila klien tidak mau mengakui dna menerima pertanggungjawaban bahwa sebenarnya mereka sendirilah yang menciptakan situasi yang ada, maka sedkit saja motivasi mereka untuk ikut terlibat dalam usaha perubahan pribadi. Terapis membantu klien dalam menemukan betapa mereka telah menghindari kebebasan dan membangkitkan semangat mereka untuk mengambik resiko dengan menggunakan kebebasan itu.
3.      Usaha untuk mendapatkan identitas dan bisa berhubungan dengan orang lain: implikasi konseling.
Orang yang mencari terapi sering merasa resah akan hilangnya keribadian atau menjadi asing dengan diri mereka sendiri. Mereka mungkin mengatakan bahwa mereka telah kehilangan pengarahan-pengarahan yang berasal dari dalam diri mereka sendiri, karena mereka terperangkap dalam kehidupan yang dirancang oleh orang lain. Dalam usaha mereka untuk menyenangkan orang lain dan mendapatkan persetujuan, yang sering mereka temukan adalah bahwa mereka tidak diterima oleh orang lain maupun oleh diri sendiri. Pada saat berjalannya proses pemberian identitas kita dengan mendasarkan diri pada apa kata orang, yang sebenarnya terjadi adalah bahwa kita menjadi orang asing terhadap diri kita sendiri.
4.      Pencarian makna : implikasi konseling
Terapis eksistensial cendrung untuk lebih menganggap eskistensi yang terbatas sebagai suatu kondisi yang membuat orang ingin mendapatkan terapi, dan bukan sebagai penyakit dan psikopatologi. Orang yang menjalani kehidupan yang secara psikologis serba terbatas memiliki kesadaran pribadi yang hanya terbatas; banyak dari potensi mereka terkunci; mereka anggap hidup ini menjemukan dan tidak bermakna, dan mereka sering bertanya-tanya apakah ini semua yang ada dalam hidup ini. Ketidakbermaknaan dalam hidup membawa ke kekosongan bak benda yang tidak ada isinya, suatu kondisi yang oleh Frank disebut vakum eksistensial.
5.      Kecemasan sebagai kondisi dalam hidup: implikasi konseling
Kecemasan eksistensial adalah rasa keresahan yang kita alami manakala kita menjadi sadar bahwa kita menjadi yang bisa diandalkan oleh diri kita sendiri akan apa yang akan terjadi karena keberadaan kita. Karena kecemasan eksistensial membuat kita tidak nyaman dan oleh karena pertanggungjawaban pribadi itu berat, kita ada kecendrungan untuk menghindar dari kecemasan inidan mengingkari pertanggungjawaban atas apa yang terjadi terhadap keberadaan kita.
6.      Kesadaran akan maut dan ketiadaan : implikasi konseling
Hidup dan mati itu saling bertautan. Agar bisa tumbuh kita harus ada kemauan untuk membiarkan beberapa dari masa lalu kita. Sebagian dari kita harus mati apabila dikehendaki munculnya dimensi baru dari keberadaan kita. Kita tidak bisa melekat pada aspek neurotik dari masa lalu kita dan pada saat yang bersamaan mengharapkan sisi yang lebih kreatif dari kita untuk bekembang.

Corey, Gerald. (1995). Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Edisi ke-4. Semarang: IKIP Semarang Press.
Corey, Gerald. (2005). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar