Terapi psikoanalitik
1.
Konsep terapi
Konsep utama teori
psikoanalitik Freud mencakup perjuangan antara insting hidup dan mati dalam
lubuk hati umat manusia ; struktur kepribadian tiga serangkai, dengan system
id, ego dan superego: dinamikanya ketidaksadaran dan pengaruhnya pada perilaku ;
peranan kecemasan dan perkembangan kepribadian pada berbagai periode kehidupan,
termasuk tahap oral, anal, palus, latensi dan genital. Dibangun di atas banyak
dari ide dasar Freud, Erikson memperluas perspektif perkembangan dengan
memasukkan di dalamnya trend psikososial. Dalam modelnya masing-masing dari
delapan tahap perkembangan manusia di beri cirri dengan sebuah krisis, tau
titik balik. Kita bisa menguasai tugas perkembangan atau gagal menyelesaikan
inti perjuangan. Kedelapan tahap dari rentang kehidupan ini adalah masa bayi,
usia kanak-kanak awal, usia pra sekolah, usia sekolah, adolesen, masa dewasa
awal, usia setengah baya dan usia senja.
Trend
kontemporer dalam teori psikoanalitik tercermin dalam psikologi diri (self) dan
teori hubungan objek. Pendekatan-pendekatan didasarkan pada pendapat bahwa pada
saat kelahiran tidak ada pemilahan antara orang lain dan si self dan bahwa
orang lain mewakili objek pemenuhan kebutuhan untuk si bayi. Melalui proses
keterkaitan si anak memasuki tahap kedua, simbiosis yaitu masa di mana masih
tidak ada kejelasan apakah objek dan apakah self itu. Dalam tahap ketiga
anak-anak mulai menarik diri dari simbiosis
dan mempribadi, membedakan diri dari orang tua tempat mereka melekatkan diri.
Tahap keempat adalah integritas. Orang lain di terima baik sebagai yang
terpisah dan yang berhubungan. Pada perkembangan yang normal anak-anak bisa
berhubungan dengan orang tuanya tanpa rasa takut untuk kehilangan rasa otonomi.
Terapi psikoanalitik
sebagian besar terdiri dari penggunaan metode mengeluarkan materi di alam tidak
sadar yang bisa di tangani. Fokusnya terutama diletakkan pada pengalaman masa
kanak-kanak, yang di bahas, direkonstruksi, diinterpretasi dan dianalisis.
Asumsinya adalah bahwa penggalian masa lalu ini, yang biasanya didapat dengan
menangani hubungan transferensi dengan terapis, merupakan hal yang perlu
dilakukan agar bisa terjadi perubahan watak.
2.
Unsur-unsur terapi
a)Munculnya
masalah atau gangguan
Terapis berusaha memunculkan penyebab-penyebab yang menjadi akar permasalahan dari klien, untuk lebih mengenal karakteristik penyebab gangguan tersebut. Kemudian,terapis memperkuat kondisi psikis dari diri klien sehingga apabila klien mengalami gangguan yang serupa, klien akan lebih siap menghadapi dan mavari solusi dengan cepat.
b) Tujuan terapi
Tujuan terapi psikonalitik adalah membentuk jembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari di dalam diri klien. Proses terapeutik di fokuskan pada upaya mengalami kembali pengalaman-pengalaman masa lampau di rekonstruksi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran merekonstruksi kepribadian. Terapi psikoanalitik menekankan dimensi afektif dari upaya menjadikan ketidaksadaran diketahui. Pemahaman dan pengertian intelektual memiliki arti penting tetapi perasaan-perasaan dan ingatan-ingatan yang berkaitan dengan pemahaman diri lebih penting lagi.
c) Peran terapis
Karakteristik psikoanalisis adalah terapis atau analis membiarkan dirinya anonim serta hanya berbagi sedikit perasaan dan pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada analis. Proyeksi-proyeksi klien yang menjadi bahan terapi, ditafsirkan dan dianalisis. Analisi terutama berurusan dengan usaha membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefiktifan dalam melakukan hubungan personal, dalam menangani kecemasan secara realistis, serta dalam memperoleh kendali atas tingkah laku yang impulsif dan irasional.
Terapis berusaha memunculkan penyebab-penyebab yang menjadi akar permasalahan dari klien, untuk lebih mengenal karakteristik penyebab gangguan tersebut. Kemudian,terapis memperkuat kondisi psikis dari diri klien sehingga apabila klien mengalami gangguan yang serupa, klien akan lebih siap menghadapi dan mavari solusi dengan cepat.
b) Tujuan terapi
Tujuan terapi psikonalitik adalah membentuk jembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari di dalam diri klien. Proses terapeutik di fokuskan pada upaya mengalami kembali pengalaman-pengalaman masa lampau di rekonstruksi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran merekonstruksi kepribadian. Terapi psikoanalitik menekankan dimensi afektif dari upaya menjadikan ketidaksadaran diketahui. Pemahaman dan pengertian intelektual memiliki arti penting tetapi perasaan-perasaan dan ingatan-ingatan yang berkaitan dengan pemahaman diri lebih penting lagi.
c) Peran terapis
Karakteristik psikoanalisis adalah terapis atau analis membiarkan dirinya anonim serta hanya berbagi sedikit perasaan dan pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada analis. Proyeksi-proyeksi klien yang menjadi bahan terapi, ditafsirkan dan dianalisis. Analisi terutama berurusan dengan usaha membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefiktifan dalam melakukan hubungan personal, dalam menangani kecemasan secara realistis, serta dalam memperoleh kendali atas tingkah laku yang impulsif dan irasional.
3.
Teknik
terapi psikoanalitik
Teknik psikoanaltik
mengarahkan sasarannya pada peningkatan kesadaran, dorongan terhadap wawasan
intelektual ke dalam perilaku klien, dan pada pemahaman akan makna dari suatu
gejala. Keenam teknik dasar dari terapi psikoanalitik adalah:
1.
Tetap berada pada kerangka analitik
Proses
psikoanalitik menekankan pada tetap beradanya pada kernagka khas yang diarahkan
agar bisa mencapai sasaran terapi jenis ini. “tetap berada pada kerangka
analitik” mengacu pada seluruh kawasan dari faktor-faktor prosedur dan gaya,
seperti misalnya keanoniman relative dari penganalsis, di selenggarakannya
pertemuan secara tepat dan konsisten, dan dimulai serta diakhirinya pertemuan
secara tepat waktu.
2.
Asosiasi bebas
Asosiasi
bebas memainkan peranan sentral dalam proses terpeliharanya kegiatan itu dalam
kerangka analitik. Asosiasi bebas merupakan salah satu dari peralatan dasar
sebagai pembuka pintu ke keinginan, khayalan, konflik serta motivasi yang tidak
di sadari. Teknik ini sering menjurus kesuatu kenangan pada pengalaman masa
lampau dan kadang-kadang menjurus kepelepasan perasaan yang intens yang selama
ini terkakang. Selama proses asosiasi bebas ini tugas terapis ke pemahaman
hubungan antar peristiwa yang dibuat oleh klien. Blokade ataupun pemutusan
aosiasi bertindak sebagai petunjuk adanya materi pembangkit keresahan. Terapis
mengintrepretasikan materi itu kepada klien, dan membingnya ke arah wawasan
yang bertambah baik terhadap dinamika yang ada, yang sementara ini tidak
disadari. Pada saat terapis mendengarkan aosiasi bebas si klien dia tidak hanya
melihat apa yang terucap tetapi juga makna yang tersembunyi di balik
ucapan-ucapan itu.
3.
Intrepretasi
Fungsi
dari intrepretasi adalah member peluang kepada ego untuk mengasimilasikan
materi baru dan untuk mempercepat proses menguak materi di luar kesadaran
selanjutnya. Intrepretasi berlandaskan penilaian terapis tentang kepribadian
klien dan tentang faktor masa lampau klien yang mana yang ikut menjadi penyebab
terjadinya kesulitan-kesulitan yang dialaminya sekarang. Menurut definisi yang
berlaku sekarang intrepretasi mencakup mengidentifikasi, menjelaskan dan
menerjemahkan materi klien. Dalam pemberian intrepretasi terapis harus
dibimbing oleh rasa kesediaan klien untuk mau mempertimbangkannya (Corey, 1995)
4.
Analisis mimpi
Analisis
mimpi merupakan prosedur yang penting untuk bisa mengungkapkan materi yang
tidak disadari dan untuk bisa memberi klien suatu wawasan ke dalam kawasan
problema yang tak terselesaikan. Pada saat orang tidur, mekanisme pertahanan
pun dikendorkan, dan perasaan yang terkekang naik ke permukaan. Freud melihat
mimpi sebagai “jalan maharaja menuju alam tidak sadar” oleh karena di alam
mimpi itu keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan, serta rasa takut yang
semuanya tidak disadari dikemukakan. Beberapa motivasi sedemikian rupa tidak
bisa diterimanya oleh seseorang hingga motivasi itu diungkapkan secara
terselubung ataupun dalam bentuk lambang dan bukan diungkapkan secara langsung.
5.
Analisis dan intrepretasi pada sifat
menentang
Sifat
menentang, suatu konsep yang fundamental pada praktek psikoanalisis, adalah segala
sesuatu yang kerjanya menentang kemajuan terapi dan membuat klien tidak bisa
mengeluarkan materi yang sebelumnya tidak ada dalam alam kesadaran. Khususnya,
dalam terapi analitik sifat menentang adalah keengganan klien untuk membawa
kepermukaan alam kesadaran materi di alam tidak sadar yang selama ini dikekang.
Freud memandang sifat menentang sebagai dinamika ketidaksadaran yang digunakan
orang untuk menggulangi kecemasan yang tidak tertahankan, yang kemungkinan akan
datang kalau ia menjadi sadar akan impuls dan perasaan mereka yang selama ini
telah dikekang.
6.
Analisis dan interpretasi pada transferensi
Situasi
transferensi dianggap berharga dalam terapi oleh karena manifestasinya memberi
klien kesempatan untuk mengalami kembali berbagai perasaan yang kalau tidak ada transferansi itu, tidak akan bisa
diraih. Lewat hubungan dengan terapis, klien mengungkapkan perasaan, keyakinan
dan keinginan yang selam ini terkubur di alam tidak sadar mereka. Tanpa
disadari, mereka ulang aspek-aspek pengalaman mereka di masa lalu dalam
kegiatan hubungan terapeutik. Analisis transferensi merupakan teknik sentral
dalam psikoanalisis dan terapi yang berorientasi pada psikoanalitik, oleh
karena analisis ini, sekarang dan di tempat ini, memberi peluang kepada klien
untuk mendapatkan wawasan tentang pengaruh masa lampau pada fungsi perilaku
mereka sekarang.
Corey,
Gerald. (1995). Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Edisi ke-4.
Semarang: IKIP Semarang Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar