Nama
: Fitriah
NPM
: 13512016
Kelas
: 3PA06
1.
Sejarah
singkat perkembangan teori bermain
Bermain
pada awalnya belum mendapat perhatian khusus dari para ahli jiwa, karena
terbatasnya pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak dan kurangmya
perhatian mereka terhadap perkembangan anak. Salah satu tokoh yang dianggap
berjasa untuk meletakkan dasar tentang bermain adalah seorang filsuf Yunani
bernama Plato. Plato dianggap sebagai orang pertama yang menyadari dan melihat
pentingnya nilai praktis dari bermain.
Bermain juga dapat
digunakan oleh guru atau orang dewasa lainnya untuk membina hubungan dengan
anak, karena selama bermain suasananya bebas maka anak merasa tidak takut-takut
untuk bermain bersama. Hal ini sangat berguna untuk membantu membina hubungan
dengan anak-anak yang sulit menyesuaikan diri, tapi perlu diingat agar suasana
diciptakan sedemikian rupa sehingga anak tidak merasa dipaksa atau terpaksa.
Kadang-kadang diperlukan beberapa kali pertemuan atau kegiatan bersama anak
sampai anak merasa lebih bebas, relaks. Karena kegiatan bermain tidak akan
muncul bila anak merasa asing dengan lingkungannya.
2. Manfaat terapi bermain
Bermain dapat
digunakan sebagai media psikoterapi atau “pengobatan” terhadap anak yang
dikenal dengan sebutan terapi bermain. Bermain dapat digunakan sebagai media
terapi karena selama bermain perilaku anak akan tampil lebih bebas, dan bermain
adalah sesuatu yang secara alamiah sudah terberi pada seorang anak. Untuk melakukan
terapi ini diperlukan pendidikan dan pelatihan khusus dari ahli yang
bersangkutan dan tidak boleh dilakukan dengan sembarangan.
Beberapa
contoh kasus anak bermasalah yang memerlukan
terapi:
- Anak yang sulit bergaul; kurang percaya diri secara berlebihan sehingga menghambat perkembangannya; anak yang tidak mau berbicara dengan orang lain selain anggota keluarga yang terdekat.
- Anak yang mempunyai kebiasaan mencabut rambutnya sampai botak sebagian atau seluruhnya; menggigit kuku sampai luka-luka; menahan buang air besar, mengompol walaupun usianya sudah tiga tahun keatas; cemas atau phobia sekolah yang bisa ditandai dengan munculnya gangguan ketubuhan seperti mual, sakit perut, muntah-muntah menjelang pergi ke sekolah.
-
Anak yang agresif, suka menyerang orang lain. Agresivitas muncul karena gangguan emosional yang diderita anak. Mungkin anak diperlakukan terlalu keras oleh orang tuanya sehingga mudah marah , memberontak.
3. Pemanfaatan bermain sebagai media
intervensi
Bermain
dapat digunakan untuk melatih kemampuan-kemampuan tertentu dan sering digunakan
untuk melatih konsentrasi atau pemusatan
perhatian pada tugas tertentu, melatih konsep-konsep dasar seperti warna,
ukuran, bentuk, arah, keruangan, melatih keterampilan motorik kasar, halus dan
sebagainya.
Intervensi
dapat pula diberikan pada penderita autism yaitu anak yang mengalami gangguan
perkembangan dengan hambatan dalam aspek bahasa, sosial, komunikasi,
menunjukkan perilaku stereotip, diulang-ulang (menerism), minat yang sempit pada satu hal / objek. Dengan
teknik-teknik perlu diusahakan agar anak mau berespon terhadap rangsangan-rangsangan
yang diberikan, baik rangsangan suara, cahaya, gerakan dan sebagainya.
Kegiatan
melatih kemampuan-kemampuan dasar terutama ditujukan untuk anak usia prasekolah.
Melatih kemampuan dasar juga bermanfaat untuk diterapkan pada anak-anak yang
mempunyai keterbelakangan mental; anal-anak yang mempunyai hambatan fisik-motorik
karena penyakit yang pernah diderita seperti Celebral Palsy, radang otak, cacat
mata, cacat pendengaran, dan sebagainya. Perlu dibuat persiapan dan rencana khusus
untuk membuat program intervensi.
Semua
kegiatan ini dilakukan sambil bermain
dan menggunakan alat-alat permainan tertentu sesuai dengan kebutuhan
masing-masing anak. Yang paling penting adalah pelaksanaannya harus
menyenangkan dan menarik untuk anak sehingga ia akan melakukan dengan minat
yang besar dan perasaan senang, tidak merasa terpaksa.
Sumber
: Tedjasaputra, S, Mayke. (2001). Bermain, mainan, dan permainan untuk
pendidikan usia dini. Jakarta: PT Grasindo.