Minggu, 12 April 2015

pertemuan 2, tugas 4



 Logoterapi
1.       Konsep terapi
Viktor Frankl mengembangkan Logoterapi yaitu: corak psikologi yang dilandasi oleh filsafat hidup dan wawasan mengenai manusia yang mengakui adanya dimensi kerohaniandi samping dimensi ragawi dan dimensi kejiwaan. Logoterapi beranggapan bahwa makna hidup dan hasrat untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna. Logoterapi memiliki wawasan mengenai manusia yang berlandaskan tiga pilar filosofis yang satu dengan lainnya erat berhubungan dan saling menunjang, yaitu kebebasan berkehendak, kehendak hidup bermakna, dan makna hidup.
a. Kebebasan berkehendak
Dalam pandangan logoterapi, manusia adalah makhluk istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan di sini bukanlah kebebasan yang mutlak, tetapi kebebasan yang bertanggung hawab. Kebebasan manusia bukanlah kebebasan dari kondisi-kondisi biologis, psikologis, dan sosiokultural tetapi lebih kepada kebebasan untuk mengambil sikap atas kondisi-kondisi tersebut.
b. Kehendak hidup bermakna
Menurut Frankl, motivasi hidup manusia yang utama adalah mencari makna. Ini berbeda dengan psikoanalisa yang memandang manusia adalah pencari kesenangan, atau juga pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan.
c. Makna hidup
Makna hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, benar dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang.
2.       Unsur-unsur Terapi
Logoterapi menganggap sikap bertanggung jawab sebagai esensi dasar kehidupan manusia. Dengan menyatakan bahwa manusia bertanggung jawab dan harus mewujudkan berbagai potensi makna hidup, Frankl menekankan bahwa makna hidup yang sebenarnya harus ditemukan dalam realitas, bukan hanya didalam batin atau jiwa manusia. Mengenai hal ini Frankl menggunakan istilah the self trancedence of human existence (transedensi diri dalam keberadaan manusia). Ia menggarisbawahi fakta bahwa manusia selalu menuju dan dituntun menuju kepada sesuatu atau seseorang di luar dirinya.
Semakin besar kemampuan orang tersebut melupakan dirinya, dengan berserah diri dan mengabdi pada sebuah tujuan atau dengan mencintai orang lain, semakin manusiawi orang tersebut, dan semakin besar ia mengaktualisasi diri atau mewujudkan dirinya. Logoterapi dilandasi keyakinan bahwa manusia memiliki kapasitas untuk mengubah aspek-aspek hidup yang negatif menjadi sesuatu yang positif atau konstruktif. Yang paling penting adalah memanfaatkan yang terbaik (optimum) dari setiap situasi. Dengan optimism tersebut, dalam bentuk yang terbaik memungkinkan manusia untuk:
1.       Mengubah penderitaan menjadi keberhasilan dan sukses
2.       Mengubah rasa bersalah menjadi kesempatan untuk mengubah diri sendiri ke arah yang lebih baik
3.       Mengubah ketidakkekalan hidup menjadi dorongan untuk bertindak dengan penuh tanggungjawab.
3.      Teknik-teknik Terapi
Frankl dengan logoterapinya tidak hanya menyumbang teori, tetapi juga teknik-teknik terapi yang khusus kepada dunia psikoterapi. Teknik-teknik logoterapi yang terkenal adalah intensi paradoksikal, derefleksi, dan bimbingan rohani.
Intensi paradoksikal. Teknik di mana pasien diajak melakukan sesuatu yang paradox dengan sikap pasien terhadap situasi yang dialami tersebut teknik intensi paradoksikal , yakni teknik mendekati dan mengejek sesuatu (gejala) dan bukan menghindari atau melawannya. Teknik pada dasarnya bertujuan lebih daripada perubahan pola=pola tingkaj laku. Lebih baik dikatakan suatu reorientasi eksistensial. Itulah logoterapi dalam arti sesungguhnya dan menurut logoterapi disebut antagonism psikonoetik yang mengacu pada kapasitas manusia untuk melepaskan atau memisahkan dirinya tidak hanya dari dunia, tetapi juga dari dirinya sendiri.

LSPR. (2010). Beyond borders: communication modernity & history. Jakarta: STIKOM LSPR.
Widyarini, Nilam. (2009). Kunci pengembangan diri. Jakarta: Tabloid Gaya Hidup Sehat
Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan mental 1. Yogyakarta: KASINUS.

pertemuan 2, tugas 3



Person centered therapy
1.      Konsep terapi
Terapi terpusat pada pribadi didasarkan pada falsafah sifat naluri manusia yang menegaskan adanya usaha untuk beraktualisasi diri. Selanjutnya pandangan Rogers tenang sifat naluri manusia adalah fenomenologis; yaitu kita membentuk diri sendiri sesuai dengan persepsi kita tentang realitas. Kita dimotifikasi untuk mengaktualisasi diri kita sendiri dalam lingkup persepsi kita akan realitas.
Teori Rogers bertumpu pada suatu asumsi bahwa klien bisa memahami faktor dalam hidup mereka yang menjadikan mereka tidak bahagia. Mereka juga memiliki kapasitas untuk mengarahkan diri mereka sendiri dan mengadakan perubahan pribadi yang konstruktif.
Pendekatan terpusat pada pribadi menekankan hubungan pribadi antara klien dan terapis; sikap terapis lebih bersikap kritis dibandingkan dengan pengetahuan, teori atau teknik. Klien didorong untuk menggunakan hubungan ini untuk menghilangkan belenggu yang menghalangi potensi pertumbuhannya dan menjadi lebih seperti orang yang diinginkannya.
Pendekatan ini memberikan pertanggungjawaban utama pada pengarahan terapi pada diri klien. Klien dikonfrontasikan pada kesempatan untuk menentukan sendiri dan berkompromi dengan kekuatan dirinya sendiri. Sasaran umum terapi lalu menjadi lebih terbuka terhadap pengalaman, terhadap kemungkinan diraihnya percaya diri, terhadap kemungkinan diraihnya percaya diri, terhadap kemungkinan untuk ma uterus tumbuh. Klien tidak dipaksakan untuk mencapai sasaran khusus; melainkan klien memilih niali serta sasaran mereka sendiri.
2.      Unsur-unsur terapi
Pendekatan humanistik Rogers terhadap terapi person centered therapy membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sejati dengan menciptakan kondisi-kondisi penerimaan dan penghargaan dalam hubungan terapeutik. Rogers berpendapat bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang dimilikinya kepada pasien. Fokus dari terapi ini adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan-perasaan yang diungkapkan pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan-perasaannya yang lebih dalam dan bagian-bagian dari dirinya yang tidak diakui karena tidak diterima oleh masyarakat. Untuk memahami dengan baik terapi person-centered, maka penting sekali kalau orang memahami istilah-istilah tertentu yang selalu digunakan Rogers. Terapi person-centered bersandar pada asumsi bahwa setiap orang memiliki motif aktualisasi-diri. Motif ini didefinisikan sebagai kecenderungan yang lekat pada semua orang (dan pada semua organisme) untuk mengembangkan kapasitas-kapasitasnya dalam cara-caranya yang berfungsi untuk mempertahankan atau meningkatkan orang itu. Jika motif diasumsikan ini tidak ada, maka fokus terapi person-centered pada non-directive akan menjadi persoalan (patut diragukan). Rogers berpendapat bahwa seorang terapis tidak boleh membuat sugesti-sugesti atau penafsiran-penafsiran dalam terapi karena dalam pandangannya motif aktualisasi akan menuntun pasien dengan sangat baik. Jika motif ini tidak ada, maka tidak ada alasan bagi terapis untuk menjadi non-directive.
3.      Teknik terapi
1.      Evolusi metode terpusat pada pribadi.
Pada saat pandangan psikoterapi Rogers berkembang maka fokus bergeser dari teknik terapeutik ke kualitas, kepercayaan dan sikap pribadi terapis dan diarahkan pada hubungan dengan klien. Dalam kerangka terpusat pada pribadi “tekniknya” adalah mendengarkan, menerima, menghormati, memahami dan berbagi. Bersikeras dengan penggunaan teknik dilihat sebagai hal yang menjadikan hubungan itu tidak memiliki sifat kepribadian lagi. Tekniknya haruslah ungkapan yang jujur dari terapinya; teknik-teknik itu tidak bisa digunakan berdasarkan kepuasan diri, oleh karena dengan demikian konselor itu tidak asli. Pada perkembangan selanjutnya pendekatan ini kurang berbicara mengenai larangan dan memberi kebebasan lebih besar pada konselor untuk lebih aktif berpartisipasi dalam hubungan itu. Perubahan ini mendorong digunakannya metode yang sangat beraneka ragam, dan bukan dengan metode tradisional seperti mendengarkan, mengenang, dan mengkomunikasikan kemauannya untuk mau mengerti. Menurut Combs (dalam Corey, 1995), pendekatan berpusat pada pribadi yang ada sekarang dipahami sebagai yang terutama untuk proses menolong klien bisa menemukan makna personal yang baru dan lebih memuaskan tentang dirinya sendiri dan dunia tempat ia tinggal.
2.      Kawasan aplikasi.
Pendekatan ini berguna bagi pelatihan para praktisi, oleh karena metodenya mengandung sifat-sifat penyelamatan yang sudah siap pakai. Ditekankan untuk tetap  bersama klien sebagai lawan dari mendahului mereka dengan intrepretasi-intrepretasi. Jadi pendekatan ini lebih aman dibandingkan dengan banyak model terapi yang menempatkan terapis dalam posisi si pemberi arahan dalam hal pemberian intrepretasi. Penentuan diagnosis, penelitian alam tidak sadar, penganalisisan mimpi, dan bekerja menuju ke berubahnya keprinadian yang lebih radikal. Bagi orang yang memiliki latar belakang yang terbatas dalam hal psikologi konseling, dinamika pribadi, dan psikopatologi, pendekatan ini memberinya kepastian bahwa klien yang dihadapi tidak akan mendapatkan bahaya secara psikologis.

Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan mental 1. Yogyakarta: KASINUS.
Corey, Gerald. (1995). Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Edisi ke-4. Semarang: IKIP Semarang Press.

Sabtu, 11 April 2015

pertemuan 2, tugas 2



Terapi humanistik eksistensial
1.      Konsep
Menurut pandangan eksistensialis, kita mampu untuk sadar akan diri sendiri, yaitu kapasitas yang membedakan diri kita dengan makhluk lain yang membuat kita mengenang dan mengambil keputusan. Dengan kesadaran ini kita menjadi makhluk yang bebas yang bertanggungjawab untuk memilih cara hidup kita, dan oleh karenanya kita mempengaruhi nasib kita sendiri. Kesadaran akan kebebasan dan pertanggungjawaban ini melahirkan kecemasan eksistensial, yang merupakan karakteristik manusia yang lain.
Terapi eksistensial menempatkan nilai penting sentral pada hubungan antar pribadi. Terapi itu percaya bahwa pertumbuhan klien terjadi melalui pertemuan yang asli ini. Bukan teknik yang digunakan oleh terapislah yang menyebabkan terjadinya perbedaan terapeutik; melainkan kualitas hubungan klien terapis itulah yang member kesembuhan.
2.      Unsur-unsur terapi
a.       Munculnya Masalah atau Gangguan
Ketika kondisi-kondisi inti manusia mulai berubah, serta munculnya kecemasan serta timbul pemikiran bahwa hidup tidak abadi, tidak bisa mngaktualisasipotensi diri dan tidak bisa mnyadari potensi diri yang dimiliki.
b.      Tujuan Terapi
Sasaran dasar dari banyak sistem terapeutik adalah membuat indivisu mampu meneriam kebebasan yang menimbulkan kekaguman untuk bertindak serta tanggung jawab yang harus dipikul atas tindakan itu. Eksitensialis berpendapat bahwa orang tidak bisa melarikan diri dari kebebasan, dalam arti bahwa kita selalu dituntut untuk memikul tanggung jawab. Terapi eksistensial berusaha agar klien bisa keluar dari belenggu yang kuat itu dan mau menantang kecendrungan mereka yang sempit dan bersifat memaksa, yang merupakan ganjalan dari kebebasan mereka.
c.       Peran Terapis
Yang harus diperhatiakan oleh terapis eksistensial adalah memahami dunia subjektif si klien agar bisa menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan pilihan baru. Fokusnya adalah pada situasi hidup klien pada saat itu, dan buka pada menolong klien agar bisasemsuh dari situasi masa lalu (May & Yalom, 1989). Yang terutama diperdulikan oleh terapis eksistensial aldalah perilaku klien untuk melepaskan diri dari tanggung jawab; klien diajak untuk menerima pertanggung jawaban pribadi. Terapis yang berorientasi eksistensial biasanya menangani orang-orang yang mengalamai apa yang dikatakan keberadaan terbatas.klien semacam ini memiliki kesadaran yang terbatas tentang dirinya sendiri dan biasanya tidak bisa melihat sifat-sifat problema yang dihadapinya. Tugas sentral dari terapis adalah langsung mengkonfrontasikan klien ini dengan cara hidup mereka dalam keberadaan terbatas ini dan menolong mereka untuk bisa menyadari bahwa mereka sendiri ikut berperan dalam menciptakan kondisi semacam itu.
3.      Teknik terapi
       Seperti yang telah kita lihat, pendekatan eksistensial tidak seperti kebanyakan terapi yang lain oleh karena pendekatan ini memiliki perangkat teknik yang siap pakai. Pendekatan ini juga bisa menyertakan teknik dari terapis kognitif – behaviorial.
1.      Kapasitas untuk sadar akan dirinya : implikasi konseling.
Kesadaran dapat dikonseptualisasi seperti berikut : bayangkan Anda sedang menyusuri lorong yang panjang dengan banyak pintu disisi kiri kanannya. Bayangkan Anda ada pilihan untuk membuka beberapa pintu itu, entah hanya setengah terbuka atau terbuka lebar-lebar, atau membiarkannya tetap tertutup. Mungkin apabila Anda membuka salah satu pintu Anda tidak senang dengan apa yang Anda lihat didalamnya. Tetapi ada juga kemungkinan Anda lihat kamar yang berisi sesuatu yang indah. Kita bisa memilih untuk mengembangkan atau membatasi kesadaran itu. Oleh karena kesadaran diri itu merupakan akar dari kapasitas manusia pada umumnya, maka keputusan untuk mengembangkannya merupakan hal yang fundamental bagi pertumbuhan manusia.
2.      Kebebasan dan tanggungjawab : implikasi konseling.
Terapis eksistensial terus menerus mengarahkan fokus pada pertanggungjawaban klien atas situasi mereka. Mereka tidak membiarkan klien menyalahkan orang lain, menyalahkan kekuatan dari luar. Apabila klien tidak mau mengakui dna menerima pertanggungjawaban bahwa sebenarnya mereka sendirilah yang menciptakan situasi yang ada, maka sedkit saja motivasi mereka untuk ikut terlibat dalam usaha perubahan pribadi. Terapis membantu klien dalam menemukan betapa mereka telah menghindari kebebasan dan membangkitkan semangat mereka untuk mengambik resiko dengan menggunakan kebebasan itu.
3.      Usaha untuk mendapatkan identitas dan bisa berhubungan dengan orang lain: implikasi konseling.
Orang yang mencari terapi sering merasa resah akan hilangnya keribadian atau menjadi asing dengan diri mereka sendiri. Mereka mungkin mengatakan bahwa mereka telah kehilangan pengarahan-pengarahan yang berasal dari dalam diri mereka sendiri, karena mereka terperangkap dalam kehidupan yang dirancang oleh orang lain. Dalam usaha mereka untuk menyenangkan orang lain dan mendapatkan persetujuan, yang sering mereka temukan adalah bahwa mereka tidak diterima oleh orang lain maupun oleh diri sendiri. Pada saat berjalannya proses pemberian identitas kita dengan mendasarkan diri pada apa kata orang, yang sebenarnya terjadi adalah bahwa kita menjadi orang asing terhadap diri kita sendiri.
4.      Pencarian makna : implikasi konseling
Terapis eksistensial cendrung untuk lebih menganggap eskistensi yang terbatas sebagai suatu kondisi yang membuat orang ingin mendapatkan terapi, dan bukan sebagai penyakit dan psikopatologi. Orang yang menjalani kehidupan yang secara psikologis serba terbatas memiliki kesadaran pribadi yang hanya terbatas; banyak dari potensi mereka terkunci; mereka anggap hidup ini menjemukan dan tidak bermakna, dan mereka sering bertanya-tanya apakah ini semua yang ada dalam hidup ini. Ketidakbermaknaan dalam hidup membawa ke kekosongan bak benda yang tidak ada isinya, suatu kondisi yang oleh Frank disebut vakum eksistensial.
5.      Kecemasan sebagai kondisi dalam hidup: implikasi konseling
Kecemasan eksistensial adalah rasa keresahan yang kita alami manakala kita menjadi sadar bahwa kita menjadi yang bisa diandalkan oleh diri kita sendiri akan apa yang akan terjadi karena keberadaan kita. Karena kecemasan eksistensial membuat kita tidak nyaman dan oleh karena pertanggungjawaban pribadi itu berat, kita ada kecendrungan untuk menghindar dari kecemasan inidan mengingkari pertanggungjawaban atas apa yang terjadi terhadap keberadaan kita.
6.      Kesadaran akan maut dan ketiadaan : implikasi konseling
Hidup dan mati itu saling bertautan. Agar bisa tumbuh kita harus ada kemauan untuk membiarkan beberapa dari masa lalu kita. Sebagian dari kita harus mati apabila dikehendaki munculnya dimensi baru dari keberadaan kita. Kita tidak bisa melekat pada aspek neurotik dari masa lalu kita dan pada saat yang bersamaan mengharapkan sisi yang lebih kreatif dari kita untuk bekembang.

Corey, Gerald. (1995). Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Edisi ke-4. Semarang: IKIP Semarang Press.
Corey, Gerald. (2005). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.

Pertemuan 2, tugas 1



Terapi psikoanalitik

1.      Konsep terapi
Konsep utama teori psikoanalitik Freud mencakup perjuangan antara insting hidup dan mati dalam lubuk hati umat manusia ; struktur kepribadian tiga serangkai, dengan system id, ego dan superego: dinamikanya ketidaksadaran dan pengaruhnya pada perilaku ; peranan kecemasan dan perkembangan kepribadian pada berbagai periode kehidupan, termasuk tahap oral, anal, palus, latensi dan genital. Dibangun di atas banyak dari ide dasar Freud, Erikson memperluas perspektif perkembangan dengan memasukkan di dalamnya trend psikososial. Dalam modelnya masing-masing dari delapan tahap perkembangan manusia di beri cirri dengan sebuah krisis, tau titik balik. Kita bisa menguasai tugas perkembangan atau gagal menyelesaikan inti perjuangan. Kedelapan tahap dari rentang kehidupan ini adalah masa bayi, usia kanak-kanak awal, usia pra sekolah, usia sekolah, adolesen, masa dewasa awal, usia setengah baya dan usia senja.
     Trend kontemporer dalam teori psikoanalitik tercermin dalam psikologi diri (self) dan teori hubungan objek. Pendekatan-pendekatan didasarkan pada pendapat bahwa pada saat kelahiran tidak ada pemilahan antara orang lain dan si self dan bahwa orang lain mewakili objek pemenuhan kebutuhan untuk si bayi. Melalui proses keterkaitan si anak memasuki tahap kedua, simbiosis yaitu masa di mana masih tidak ada kejelasan apakah objek dan apakah self itu. Dalam tahap ketiga anak-anak mulai menarik diri dari  simbiosis dan mempribadi, membedakan diri dari orang tua tempat mereka melekatkan diri. Tahap keempat adalah integritas. Orang lain di terima baik sebagai yang terpisah dan yang berhubungan. Pada perkembangan yang normal anak-anak bisa berhubungan dengan orang tuanya tanpa rasa takut untuk kehilangan rasa otonomi.
            Terapi psikoanalitik sebagian besar terdiri dari penggunaan metode mengeluarkan materi di alam tidak sadar yang bisa di tangani. Fokusnya terutama diletakkan pada pengalaman masa kanak-kanak, yang di bahas, direkonstruksi, diinterpretasi dan dianalisis. Asumsinya adalah bahwa penggalian masa lalu ini, yang biasanya didapat dengan menangani hubungan transferensi dengan terapis, merupakan hal yang perlu dilakukan agar bisa terjadi perubahan watak.

2.      Unsur-unsur terapi
a)Munculnya masalah atau gangguan
Terapis berusaha memunculkan penyebab-penyebab yang menjadi akar permasalahan dari klien, untuk lebih mengenal karakteristik penyebab gangguan tersebut. Kemudian,terapis memperkuat kondisi psikis dari diri klien sehingga apabila klien mengalami gangguan yang serupa, klien akan lebih siap menghadapi dan mavari solusi dengan cepat.
b) Tujuan terapi
Tujuan terapi psikonalitik adalah membentuk jembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari di dalam diri klien. Proses terapeutik di fokuskan pada upaya mengalami kembali pengalaman-pengalaman masa lampau di rekonstruksi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran merekonstruksi kepribadian. Terapi psikoanalitik menekankan dimensi afektif dari upaya menjadikan ketidaksadaran diketahui. Pemahaman dan pengertian intelektual memiliki arti penting tetapi perasaan-perasaan dan ingatan-ingatan yang berkaitan dengan pemahaman diri lebih penting lagi.
c) Peran terapis
Karakteristik psikoanalisis adalah terapis atau analis membiarkan dirinya anonim serta hanya berbagi sedikit perasaan dan pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada analis. Proyeksi-proyeksi klien yang menjadi bahan terapi, ditafsirkan dan dianalisis. Analisi terutama berurusan dengan usaha membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefiktifan dalam melakukan hubungan personal, dalam menangani kecemasan secara realistis, serta dalam memperoleh kendali atas tingkah laku yang impulsif dan irasional.

3.      Teknik terapi psikoanalitik
Teknik psikoanaltik mengarahkan sasarannya pada peningkatan kesadaran, dorongan terhadap wawasan intelektual ke dalam perilaku klien, dan pada pemahaman akan makna dari suatu gejala. Keenam teknik dasar dari terapi psikoanalitik adalah:
1.      Tetap berada pada kerangka analitik
Proses psikoanalitik menekankan pada tetap beradanya pada kernagka khas yang diarahkan agar bisa mencapai sasaran terapi jenis ini. “tetap berada pada kerangka analitik” mengacu pada seluruh kawasan dari faktor-faktor prosedur dan gaya, seperti misalnya keanoniman relative dari penganalsis, di selenggarakannya pertemuan secara tepat dan konsisten, dan dimulai serta diakhirinya pertemuan secara tepat waktu.
2.      Asosiasi bebas
Asosiasi bebas memainkan peranan sentral dalam proses terpeliharanya kegiatan itu dalam kerangka analitik. Asosiasi bebas merupakan salah satu dari peralatan dasar sebagai pembuka pintu ke keinginan, khayalan, konflik serta motivasi yang tidak di sadari. Teknik ini sering menjurus kesuatu kenangan pada pengalaman masa lampau dan kadang-kadang menjurus kepelepasan perasaan yang intens yang selama ini terkakang. Selama proses asosiasi bebas ini tugas terapis ke pemahaman hubungan antar peristiwa yang dibuat oleh klien. Blokade ataupun pemutusan aosiasi bertindak sebagai petunjuk adanya materi pembangkit keresahan. Terapis mengintrepretasikan materi itu kepada klien, dan membingnya ke arah wawasan yang bertambah baik terhadap dinamika yang ada, yang sementara ini tidak disadari. Pada saat terapis mendengarkan aosiasi bebas si klien dia tidak hanya melihat apa yang terucap tetapi juga makna yang tersembunyi di balik ucapan-ucapan itu.
3.      Intrepretasi
Fungsi dari intrepretasi adalah member peluang kepada ego untuk mengasimilasikan materi baru dan untuk mempercepat proses menguak materi di luar kesadaran selanjutnya. Intrepretasi berlandaskan penilaian terapis tentang kepribadian klien dan tentang faktor masa lampau klien yang mana yang ikut menjadi penyebab terjadinya kesulitan-kesulitan yang dialaminya sekarang. Menurut definisi yang berlaku sekarang intrepretasi mencakup mengidentifikasi, menjelaskan dan menerjemahkan materi klien. Dalam pemberian intrepretasi terapis harus dibimbing oleh rasa kesediaan klien untuk mau mempertimbangkannya (Corey, 1995)
4.      Analisis mimpi
Analisis mimpi merupakan prosedur yang penting untuk bisa mengungkapkan materi yang tidak disadari dan untuk bisa memberi klien suatu wawasan ke dalam kawasan problema yang tak terselesaikan. Pada saat orang tidur, mekanisme pertahanan pun dikendorkan, dan perasaan yang terkekang naik ke permukaan. Freud melihat mimpi sebagai “jalan maharaja menuju alam tidak sadar” oleh karena di alam mimpi itu keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan, serta rasa takut yang semuanya tidak disadari dikemukakan. Beberapa motivasi sedemikian rupa tidak bisa diterimanya oleh seseorang hingga motivasi itu diungkapkan secara terselubung ataupun dalam bentuk lambang dan bukan diungkapkan secara langsung.
5.      Analisis dan intrepretasi pada sifat menentang
Sifat menentang, suatu konsep yang fundamental pada praktek psikoanalisis, adalah segala sesuatu yang kerjanya menentang kemajuan terapi dan membuat klien tidak bisa mengeluarkan materi yang sebelumnya tidak ada dalam alam kesadaran. Khususnya, dalam terapi analitik sifat menentang adalah keengganan klien untuk membawa kepermukaan alam kesadaran materi di alam tidak sadar yang selama ini dikekang. Freud memandang sifat menentang sebagai dinamika ketidaksadaran yang digunakan orang untuk menggulangi kecemasan yang tidak tertahankan, yang kemungkinan akan datang kalau ia menjadi sadar akan impuls dan perasaan mereka yang selama ini telah dikekang.
6.      Analisis dan interpretasi pada transferensi
Situasi transferensi dianggap berharga dalam terapi oleh karena manifestasinya memberi klien kesempatan untuk mengalami kembali berbagai perasaan yang kalau  tidak ada transferansi itu, tidak akan bisa diraih. Lewat hubungan dengan terapis, klien mengungkapkan perasaan, keyakinan dan keinginan yang selam ini terkubur di alam tidak sadar mereka. Tanpa disadari, mereka ulang aspek-aspek pengalaman mereka di masa lalu dalam kegiatan hubungan terapeutik. Analisis transferensi merupakan teknik sentral dalam psikoanalisis dan terapi yang berorientasi pada psikoanalitik, oleh karena analisis ini, sekarang dan di tempat ini, memberi peluang kepada klien untuk mendapatkan wawasan tentang pengaruh masa lampau pada fungsi perilaku mereka sekarang.

Corey, Gerald. (1995). Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Edisi ke-4. Semarang: IKIP Semarang Press.