Rabu, 03 Juni 2015

Terapi Bermain


Nama : Fitriah
NPM : 13512016
Kelas : 3PA06

1.      Sejarah singkat perkembangan teori bermain
Bermain pada awalnya belum mendapat perhatian khusus dari para ahli jiwa, karena terbatasnya pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak dan kurangmya perhatian mereka terhadap perkembangan anak. Salah satu tokoh yang dianggap berjasa untuk meletakkan dasar tentang bermain adalah seorang filsuf Yunani bernama Plato. Plato dianggap sebagai orang pertama yang menyadari dan melihat pentingnya nilai praktis dari bermain.
Bermain juga dapat digunakan oleh guru atau orang dewasa lainnya untuk membina hubungan dengan anak, karena selama bermain suasananya bebas maka anak merasa tidak takut-takut untuk bermain bersama. Hal ini sangat berguna untuk membantu membina hubungan dengan anak-anak yang sulit menyesuaikan diri, tapi perlu diingat agar suasana diciptakan sedemikian rupa sehingga anak tidak merasa dipaksa atau terpaksa. Kadang-kadang diperlukan beberapa kali pertemuan atau kegiatan bersama anak sampai anak merasa lebih bebas, relaks. Karena kegiatan bermain tidak akan muncul bila anak merasa asing dengan lingkungannya.

2.      Manfaat terapi bermain
Bermain dapat digunakan sebagai media psikoterapi atau “pengobatan” terhadap anak yang dikenal dengan sebutan terapi bermain. Bermain dapat digunakan sebagai media terapi karena selama bermain perilaku anak akan tampil lebih bebas, dan bermain adalah sesuatu yang secara alamiah sudah terberi pada seorang anak. Untuk melakukan terapi ini diperlukan pendidikan dan pelatihan khusus dari ahli yang bersangkutan dan tidak boleh dilakukan dengan sembarangan.

Beberapa contoh kasus anak bermasalah yang memerlukan terapi:
  • Anak yang sulit bergaul; kurang percaya diri secara berlebihan sehingga menghambat  perkembangannya; anak yang tidak mau berbicara dengan orang      lain selain anggota keluarga yang terdekat.
  • Anak yang mempunyai kebiasaan mencabut rambutnya  sampai botak sebagian atau seluruhnya; menggigit kuku sampai luka-luka; menahan buang air besar, mengompol walaupun usianya sudah tiga tahun keatas; cemas atau phobia sekolah yang bisa ditandai dengan munculnya gangguan ketubuhan seperti mual, sakit perut, muntah-muntah menjelang pergi ke sekolah.
  • Anak yang agresif, suka menyerang orang lain. Agresivitas muncul karena gangguan emosional yang diderita anak. Mungkin anak diperlakukan terlalu keras oleh orang tuanya sehingga mudah marah , memberontak.
3.      Pemanfaatan bermain sebagai media intervensi

Bermain dapat digunakan untuk melatih kemampuan-kemampuan tertentu dan sering digunakan untuk  melatih konsentrasi atau pemusatan perhatian pada tugas tertentu, melatih konsep-konsep dasar seperti warna, ukuran, bentuk, arah, keruangan, melatih keterampilan motorik kasar, halus dan sebagainya.         
Intervensi dapat pula diberikan pada penderita autism yaitu anak yang mengalami gangguan perkembangan dengan hambatan dalam aspek bahasa, sosial, komunikasi, menunjukkan perilaku stereotip, diulang-ulang (menerism), minat yang sempit pada satu hal / objek. Dengan teknik-teknik perlu diusahakan agar anak mau berespon terhadap rangsangan-rangsangan yang diberikan, baik rangsangan suara, cahaya, gerakan dan sebagainya.
Kegiatan melatih kemampuan-kemampuan dasar terutama ditujukan untuk anak usia prasekolah. Melatih kemampuan dasar juga bermanfaat untuk diterapkan pada anak-anak yang mempunyai keterbelakangan mental; anal-anak yang mempunyai hambatan fisik-motorik karena penyakit yang pernah diderita seperti Celebral Palsy, radang otak, cacat mata, cacat pendengaran, dan sebagainya. Perlu dibuat persiapan dan rencana khusus untuk membuat program intervensi.
Semua kegiatan ini  dilakukan sambil bermain dan menggunakan alat-alat permainan tertentu sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Yang paling penting adalah pelaksanaannya harus menyenangkan dan menarik untuk anak sehingga ia akan melakukan dengan minat yang besar dan perasaan senang, tidak merasa terpaksa.

Sumber : Tedjasaputra, S, Mayke. (2001). Bermain, mainan, dan permainan untuk pendidikan usia dini. Jakarta: PT Grasindo.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar