kelas : 3PA06
NPM : 13512016
1.
Komunikasi
dalam manajemen
A.
Definisi
komunikasi
Komunikasi
adalah sara untuk terjalinnya hubungan antar seseorang dengan orang lain,
dengan adanya komunikasi maka terjadilah hubungan sosial, sehingga terjadi
interaksi timbalk balik.
B.
Proses komunikasi diawali oleh
sumber (source) baik individu ataupun kelompok yang berusaha
berkomunikasi dengan individu atau kelompok lain, sebagai berikut:
a.
Langkah
pertama yang dilakukan sumber adalah
ideation yaitu penciptaan satu gagasan atau pemilihan seperangkat informasi
untuk dikomunikasikan.
Ideation ini merupakan landasan bagi suatu pesan yang akan disampaikan.
b.
Langkah
kedua dalam penciptaan suatu pesan adalah
encoding, yaitu sumber menerjemahkan informasi atau gagasan dalam wujud
kata-kaya, tanda-tanda atau lambang-lambang yang disengaja untuk menyampaikan
informasi dan diharapkan mempunyai efek terhadap orang lain.
c.
Langkah
ketiga dalam proses komunikasi adalah
penyampaian pesan yang telah disandi (encode). Sumber menyampaikan
pesan kepada penerima dengan cara
berbicara, menulis, menggambar ataupun melalui suatu tindakan tertentu.
Pada langkah ketiga ini, kita mengenal istilah channel atau saluran, yaitu
alat-alat untuk menyampaikan suatu pesan. Saluran untuk komunikasi lisan adalah
komunikasi tatap muka, radio dan telepon. Sedangkan saluran untuk
komunikasi tertulis meliputi setiap materi yang tertulis ataupun sebuah media
yang dapat mereproduksi kata-kata tertulis seperti: televisi, kaset, video atau
OHP (overheadprojector). Sumber berusaha untuk mebebaskan saluran
komunikasi dari gangguan ataupun hambatan, sehingga pesan dapat sampai kepada
penerima seperti yang dikehendaki.
d.
Langkah keempat, perhatian dialihkan kepada penerima pesan. Jika
pesan itu bersifat lisan, maka penerima perlu menjadi seorang pendengar yang
baik, karena jika penerima tidak mendengar, pesan tersebut akan hilang.
Dalam proses ini, penerima melakukan decoding, yaitu memberikan penafsiran
interpretasi terhadap pesan yang disampaikan kepadanya. Pemahaman
(understanding) merupakan kunci untuk melakukan decoding dan hanya
terjadi dalam pikiran penerima. Akhirnya penerimalah yang akan menentukan
bagaimana memahami suatu pesan dan bagaimana pula memberikan respons terhadap
pesan tersebut.
e.
Proses terakhir dalam proses komunikasi adalah feedback atau umpan balik
yang memungkinkan sumber mempertimbangkan kembali pesan yang telah
disampaikannya kepada penerima. Respons atau umpan balik dari penerima
terhadap pesan yang disampaikan sumber dapat berwujud kata-kata ataupun
tindakan-tindakan tertentu. Penerima bisa mengabaikan pesan tersebut
ataupun menyimpannya. Umpan balik inilah yang dapat dijadikan landasan
untuk mengevaluasi efektivitas komunikasi.
C.
Hambatan-hambatan
komunikasi yang dapat menyebabkan komunikasi menjadi tidak efektif menurut Ron
Ludlow & Fergus Panton, yaitu :
a.
Status effect
Adanya perbedaaan pengaruh status sosial yang dimiliki setiap manusia.Misalnya karyawan dengan status sosial yang lebih rendah harus tunduk dan patuh apapun perintah yang diberikan atasan. Maka karyawan tersebut tidak dapat atau takut mengemukakan aspirasinya atau pendapatnya.
Adanya perbedaaan pengaruh status sosial yang dimiliki setiap manusia.Misalnya karyawan dengan status sosial yang lebih rendah harus tunduk dan patuh apapun perintah yang diberikan atasan. Maka karyawan tersebut tidak dapat atau takut mengemukakan aspirasinya atau pendapatnya.
b.
Semantic Problems
Faktor semantik menyangkut bahasa yang dipergunakan komunikator sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaanya kepada komunikan. Demi kelancaran komunikasi seorang komunikator harus benar-benar memperhatikan gangguan sematis ini, sebab kesalahan pengucapan atau kesalahan dalam penulisan dapat menimbulkan salah pengertian (misunderstanding) atau penafsiran (misinterpretation) yang pada gilirannya bisa menimbulkan salah komunikasi (miscommunication). Misalnya kesalahan pengucapan bahasa dan salah penafsiran seperti contoh : pengucapan demonstrasi menjadi demokrasi, kedelai menjadi keledai dan lain-lain.
Faktor semantik menyangkut bahasa yang dipergunakan komunikator sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaanya kepada komunikan. Demi kelancaran komunikasi seorang komunikator harus benar-benar memperhatikan gangguan sematis ini, sebab kesalahan pengucapan atau kesalahan dalam penulisan dapat menimbulkan salah pengertian (misunderstanding) atau penafsiran (misinterpretation) yang pada gilirannya bisa menimbulkan salah komunikasi (miscommunication). Misalnya kesalahan pengucapan bahasa dan salah penafsiran seperti contoh : pengucapan demonstrasi menjadi demokrasi, kedelai menjadi keledai dan lain-lain.
c.
Perceptual distorsion
Perceptual distorsion dapat disebabkan karena perbedaan cara pandangan yang sempit pada diri sendiri dan perbedaaan cara berpikir serta cara mengerti yang sempit terhadap orang lain. Sehingga dalam komunikasi terjadi perbedaan persepsi dan wawasan atau cara pandang antara satu dengan yang lainnya.
Perceptual distorsion dapat disebabkan karena perbedaan cara pandangan yang sempit pada diri sendiri dan perbedaaan cara berpikir serta cara mengerti yang sempit terhadap orang lain. Sehingga dalam komunikasi terjadi perbedaan persepsi dan wawasan atau cara pandang antara satu dengan yang lainnya.
d.
Cultural Differences
Hambatan yang terjadi karena disebabkan adanya perbedaan kebudayaan, agama dan lingkungan sosial. Dalam suatu organisasi terdapat beberapa suku, ras, dan bahasa yang berbeda. Sehingga ada beberapa kata-kata yang memiliki arti berbeda di tiap suku. Seperti contoh : kata “jangan” dalam bahasa Indonesia artinya tidak boleh, tetapi orang suku jawa mengartikan kata tersebut suatu jenis makanan berupa sup.
Hambatan yang terjadi karena disebabkan adanya perbedaan kebudayaan, agama dan lingkungan sosial. Dalam suatu organisasi terdapat beberapa suku, ras, dan bahasa yang berbeda. Sehingga ada beberapa kata-kata yang memiliki arti berbeda di tiap suku. Seperti contoh : kata “jangan” dalam bahasa Indonesia artinya tidak boleh, tetapi orang suku jawa mengartikan kata tersebut suatu jenis makanan berupa sup.
e.
Physical Distractions
Hambatan ini disebabkan oleh gangguan lingkungan fisik terhadap proses berlangsungnya komunikasi. Contohnya : suara riuh orang-orang atau kebisingan, suara hujan atau petir, dan cahaya yang kurang jelas.
Hambatan ini disebabkan oleh gangguan lingkungan fisik terhadap proses berlangsungnya komunikasi. Contohnya : suara riuh orang-orang atau kebisingan, suara hujan atau petir, dan cahaya yang kurang jelas.
f.
Poor
choice of communication channels
Adalah gangguan yang disebabkan pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi. Contoh dalam kehidupan sehari-hari misalnya sambungan telephone yang terputus-putus, suara radio yang hilang dan muncul, gambar yang kabur pada pesawat televisi, huruf ketikan yang buram pada surat sehingga informasi tidak dapat ditangkap dan dimengerti dengan jelas.
Adalah gangguan yang disebabkan pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi. Contoh dalam kehidupan sehari-hari misalnya sambungan telephone yang terputus-putus, suara radio yang hilang dan muncul, gambar yang kabur pada pesawat televisi, huruf ketikan yang buram pada surat sehingga informasi tidak dapat ditangkap dan dimengerti dengan jelas.
g.
No Feed
back
Hambatan tersebut adalah seorang sender mengirimkan pesan kepada receiver tetapi tidak adanya respon dan tanggapan dari receiver maka yang terjadi adalah komunikasi satu arah yang sia-sia. Seperti contoh : Seorang manajer menerangkan suatu gagasan yang ditujukan kepada para karyawan, dalam penerapan gagasan tersebut para karyawan tidak memberikan tanggapan atau respon dengan kata lain tidak peduli dengan gagasan seorang manajer.
Hambatan tersebut adalah seorang sender mengirimkan pesan kepada receiver tetapi tidak adanya respon dan tanggapan dari receiver maka yang terjadi adalah komunikasi satu arah yang sia-sia. Seperti contoh : Seorang manajer menerangkan suatu gagasan yang ditujukan kepada para karyawan, dalam penerapan gagasan tersebut para karyawan tidak memberikan tanggapan atau respon dengan kata lain tidak peduli dengan gagasan seorang manajer.
D.
Komunikasi
interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan kepada pihak lain untuk
mendapatkan umpan balik, baik secara langsung (face to face) maupun dengan
media. Seorang individu menajadi pengirim sekaligus penerima pesan .
2.
Pelatihan
dan pengembangan
A.
Definisi
pelatihan
Menurut
Sikula (Susilo Martoyo, 1996: 55) pengertian pelatihan adalah suatu proses
pendidikan jangka pendek yang menggunakan prosedur sistematis dan terorganisir
dimana para karyawan non-manajerial mempelajari pengetahuan dan keterampilan
teknis dalam tujuan terbatas.
B.
Tujuan
dan sasaran harus jelas dan dapat diukur. Menurut Anwar Prabu Mangkunegara
(2009: 45) tujuan dari pelatihan dan pengembangan karyawan yaitu :
a.
Meningkatkan penghayatan jiwa dan ideologi.
b.
Meningkatkan produktivitas kerja.
c.
Meningkatkan kualitas kerja.
d.
Meningkatkan ketetapan perencanaan sumber daya manusia
e.
Meningkatkan sikap moral dan semangat kerja
f.
Meningkatkan rangsangan agar pegawai mampu berprestasi secara maksimal.
g.
Meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja.
h.
Menghindarkan keusangan (obsolescence).
i.
Meningkatkan perkembangan pegawai.
Dari
tujuan pelatihan dan pengembangan karyawan yang telah dikemukakan diatas pada
dasarnya dapat disimpulkan bahwa pada intinya tujuan pelatihan dan pengembangan
yaitu untuk meningkatkan kemampuan karyawan baik secara afektif (sikap),
kognitif (pengetahuan) dan psikomotoriknya (perilaku) serta mempersiapkan
karyawan dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi sehingga dapat
mengatasi hambatan-hambatan yang sekiranya muncul dalam pekerjaan.
C.
Perbedaan
pelatihan dan pengembangan
Menurut
Mutiara S. Panggabean (2002: 51) mengungkapkan bahwa pelatihan lebih berorientasi
pada pekerjaan saat ini untuk meningkatkan keterampilan keterampilan tertentu.
Di lain pihak pengembangan karyawan lebih berorientasi pada masa depan dan
lebih perduli terhadap pendidikan, yaitu terhadap peningkatan kemampuan
seseorang untuk memahami dan menginterpretasi pengetahuan bukan mengajarkan
kemampuan teknis. Pengembangan lebih difokuskan pada peningkatan keterampilan
dalam mengambil keputusan dan hubungan manusia.
D.
Faktor
psikologis dalam pelatihan dan pengembangan
a. Efektifitas
biaya (cost-effectiveness).
b. Isi program
yang dikehendaki (desired program content).
c. Kelayakan
fasilitas-fasilitas (appropriateness of the facilities).
d. Prefensi dan
kemampuan peserta (trainee preferences and capabilities).
e.
Preferensi dan kemampuan instruktur atau pelatih (trainer preferences and
capabilities).
f.
Prinsip-prinsip belajar (learning principles).
E.
Teknik
dan metode pelatihan
a.
Metode
Praktis (on-the-job training)
On-the-job merupakan
metode latihan yang paling banyak digunakan, Karyawan dilatih tentang pekerjaan
baru dengan supervisi langsung seorang pelatih yang berpengalaman (biasanya
karyawan lain).
b.
Teknik-teknik
presentasi informasi dan metode-metode simulasi (off-the-job training)
c.
Pelatihan Instruksi Kerja: Karyawan
langsung belajar menjalankan pekerjaannya saat ini. Yang menjadi instruktur
bisa pelatih khusus, atasan/supervisor, atau rekan kerja yang berpengalaman.
d.
Rotasi Jabatan: Karyawan
berpindah-pindah dari satu jabatan ke jabatan lainnya. Ini penting untuk
membuat karyawan ahli dalam berbagai pekerjaan sehingga bisa cepat menggantikan
karyawan lain yang cuti, absen, diberhentikan, atau mengundurkan diri.
e.
Magang dan Coaching: Dengan magang
karyawan belajar pada karyawan lain yang lebih berpengalaman, meskipun bisa
juga dikombinasikan dengan pelatihan di kelas di luar jam kerja. Coaching mirip
dengan magang karena seorang coach (pembimbing) berusaha memberi contoh untuk
ditiru karyawan yang sedang dilatih (trainee
f.
Role Playing dan Behavior Modeling: Dalam role
playing (bermain peran) para karyawan mencoba memainkan peran tertentu yang ada
dalam situasi kerja yang nyata. Misalkan saja ada karyawan yang memainkan peran
manajer yang sedang memberi saran kepada bawahannya, dan ada karyawan yang
memerankan bawahan tersebut. Dalam behavior modeling para karyawan berusaha
meniru perilaku kerja tertentu sampai mereka benar-benar menguasai.
g.
Studi Kasus: Dengan studi kasus para karyawan
mempelajari situasi nyata atau rekaan yang bisa terjadi dalam pekerjaan mereka
h.
Simulasi: Simulasi biasanya menggunakan mesin
canggih yang bisa memunculkan situasi kerja yang nyata. Mesin itu disebut
simulator, misalnya saja ada simulator pesawat terbang, kapal laut, kereta api,
dan sebagainya.
i.
Belajar Mandiri dan Pembelajaran Terprogram: Para karyawan
bisa mempelajari sendiri pekerjaannya dengan bantuan bahan-bahan instruksional
yang dirancang sedemikian rupa.
j.
Pelatihan Laboratorium: Dalam pelatihan
laboratorium para karyawan berbagi pengalaman, perasaan, dan persepsi sehingga
di sini mereka bisa meningkatkan kemampuan interpersonalnya.
k.
Action Learning: Dalam action
learning sekelompok kecil karyawan harus memecahkan sebuah masalah nyata yang
terjadi dalam organisasi.
l.
Business game (permainan bisnis): adalah metode
pelatihan dan pengembangan yang memungkinkan para peserta untuk mengambil
peran-peran seperti presiden, controller, atau vice president
pemasaran dari dua organisasi bayangan atau lebih dan bersaing satu sama lain
dengan memanipulasi faktor-faktor yang dipilih dalam suatu situasi bisnis
tertentu.
http://www.psikologizone.com/definisi-komunikasi-interpersonal/06511922
Tidak ada komentar:
Posting Komentar