Nama
: Fitriah
Kelas
: 3PA06
NPM
: 13512016
1. Pengorganisasian
struktur manajemen
A. Definisi
pengorganisasian
a. Organisasi Menurut Stoner;
Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di
bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama.
b. Organisasi Menurut James D.Mooney;
Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan
bersama.
c. Organisasi Menurut Chester
I.Bernard; Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang
dilakukan oleh dua orang atau lebih.
Jadi
pengorganisasian ialah pengaturan setelah perencanaan tersebut selesai digarap
untuk mencapai suatu tujuan bersama.
B. Pengorganisasian sebagai fungsi
manajemen
Dengan kata lain pengorganisasian adalah fungsi
manajemen yang berhubungan dengan pembagian tugas. Pengorganisasian mempermudah
manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk
melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian
dapat dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa
yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa
yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, dan pada tingkatan mana keputusan
harus diambil.
Jadi di dalam pengorganisasian, manajer memutuskan
posisi-posisi yang perlu diisi serta tugas-tugas dan tanggung jawab yang
melekat pada setiap posisi tersebut.
2. Actuating
dalam manajemen
A. Definisi
actuating
Menggerakkan (actuating)
menurut Tery berarti merangsang anggota-anggota kelompok melaksanakan
tugas-tugas dengan antusias dan kemauan yang baik2.
Jadi artinya actuating menggerakkan orang-orang agar
mau bekerja dengan sendirinya.
B. Pentingnya
actuating
Pengarahan atau penggerakkan merupakan hubungan manusia
dalam kepemimpinan yang mengikat para bawahan agar bersedia mengerti dan
menyumbangkan tenaganya secara etektit serta efisien dalam pencapaian tujuan
suatu organisasi. Di dalam manajemen, pengarahan ini bersifat sangat kompleks
karena disamping menyangkut manusia juga menyangkut berbagai tingkah laku dari
manusia-manusia itu sendiri.
C. Prinsip
actuating
Menurut
Kurniawan (2009) prinsip-prinsip dalam penggerakan/actuating antara lain:
a. Memperlakukan pegawai dengan
sebaik-baiknya
b. Mendorong pertumbuhan dan
perkembangan manusia
c. Menanamkan pada manusia keinginan
untuk melebihi
d. Menghargai hasil yang baik dan
sempurna
e. Mengusahakan adanya keadilan tanpa
pilih kasih
f. Memberikan kesempatan yang tepat dan
bantuan yang cukup
g. Memberikan dorongan untuk
mengembangkan potensi dirinya
3. Mengendalikan
fungsi manajemen
A. Definisi
controlling
Controlling
atau pengawasan dan pengendalian adalah proses untuk mengamati secara terus
menerus pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana kerja yang sudah disusun dan
mengadakan koreksi jika terjadi.
Jadi secara sederhana pengendalian dapat diartikan
sebagai proses penyesuaian pergerakan organisasi dengan tujuannya.
B. Langkah-langkah
dalam Kontrol
Beberapa
cara pengendlian yang harus dilakukan oleh seorang menejer yang meliputi
sebagai berikut :
a. Pengawasan Langsung adalah
pengawasan yang dilakukan sendiri secara langsung oleh seorang manajer. Manajer
memeriksa pekerjaan yang sedang dilakukan untuk mengetahui apakah di kerjakan dengan
benar dan hasilnya sesuai dengan yang dikehendakinya.
b. Pengawasan Tidak Langsung adalah
pengawasan jarak jauh, artinya dengan melalui laporan secara tertulis maupun
lisan dari karyawan tentang pelaksanaan pekerjaan dan hasil-hasil yang dicapai.
c. Pengawasan berdasarkan kekecualian
adalah pengendalian yang dikhususkan untuk kesalahan-kesalahan yang luar biasa
dari hasil atau standar yang diharapkan. Pengendalian ini dilakukan dengan cara
kombinasi langsung dan tidak langsung oleh manajer.
C. Kontrol sebagai fungsi manajemen
Controlling
atau pengawasan adalah fungsi manajemen dimana peran dari personal yang sudah
memiliki tugas, wewenang dan menjalankan pelaksanaannya perlu dilakukan
pengawasan agar supaya berjalan sesuai dengan tujuan, visi dan misi.
4. Motivasi
A. Definisi motivasi
Motivasi menurut Winkel (1997) adalah sebagai daya
penggerak dari dalam diri individu dengan maksud mencapai kegiatan tertentu dan
untuk mencapai tujuan tertentu.
Selanjutnya Chaplin (1999) mendefinisikan motivasi
sebagai variabel penyelang yang digunakan untuk menimbulkan faktor-faktor
tertentu di dalam organisme, yang membangkitkan, mengelola, mempertahankan, dan
menyalurkan tingkah laku menuju suatu sasaran.
Murray (dalam Chaplin, 1999) juga mengemukakan
pendapatnya sendiri mengenai motivasi. Ia menyebutkan motivasi sebagai motif
untuk mengatasi rintangan-rintangan atau berusaha melaksanakan sebaik dan
secepat mungkin pekerjaan-pekerjaan yang sulit.
Berdasarkan pengertian di atas motivasi adalah satu penggerak dari dalam hati seseorang
untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan .
B. Definisi
motivasi kerja
Motivasi kerja diartikan sebagai keadaan dalam diri
individu yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan
tertentu guna mencapai tujuan. Motivasi yang ada pada seseorang akan diwujudkan
dalam satu perilaku yang diarahkan pada tujuan mencapai sasaran kepuasan (Reksohadiprodjo
dan Handoko,1990).
C. Teori-teori
motivasi
a. Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa
pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5
tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan
terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan
Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang
lebih kompleks.
a. Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus,
dan sebagainya)
b. Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan
terlindung, jauh dari bahaya)
c. Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki
(berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)
d. Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi,
berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)
e. Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan
kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian,
keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan
diri dan menyadari potensinya)
b. Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor
yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri
dari ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktorhigiene
(faktor ekstrinsik) dan factor motivator
(faktor intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari
ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan,
kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik), sedangkan faktor
motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk
didalamnya adalah achievement, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb
(faktor intrinsik).
c. Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive
theory of motivation menjelaskanmmengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak
dapat melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat dapat ia
inginkan. Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan
oleh tiga komponen, yaitu:
a. Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu
tugas
b. Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa
yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas
untuk mendapatkan
outcome tertentu).
c. Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti
perasaan posistif, netral, atau negatif.Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan
sesuatu yang melebihi harapanMotivasi rendah jika usahanya menghasilkan kurang
dari yang diharapkan.
5. Kepuasan
kerja
A. Definisi
kepuasan kerja
Menurut
Kreitner dan Kinicki (2001;271) kepuasan kerja adalah “suatu efektifitas atau
respons emosional terhadap berbagai aspek pekerjaan”.
Davis
dan Newstrom (1985;105) mendeskripsikan “kepuasan kerja adalah seperangkat
perasaan pegawai tentang menyenangkan atau tidaknya pekerjaan mereka”.
Selanjutnya
menurut Robbins (2003;78) kepuasan kerja adalah “sikap umum terhadap pekerjaan seseorang
yang menunjukkan perbedaan antara jumlah penghargaan yag diterima pekerja dan
jumlah yang mereka yakini seharusnya mereka terima”.
Dari
beberapa definisi di atas umumnya menyatakan bahwa kepuasan kerja merupakan
bentuk perasaan seseorang terhadap pekerjaannya, situasi kerja dan rekan
sekerja. Dengan demikian kepuasan kerja merupakan sesuatu yang lebih penting
untuk dimiliki oleh seorang karyawan, dimana mereka dapat berinteraksi dengan
lingkungan kerjanya. Untuk selanjutnya mereka akan bekerja sebaik mungkin
sehingga tujuan perusahaan akan tercapai.
B. Aspek-aspek
kepuasan kerja
Menurut
Robbins (1996) ada lima aspek kepuasan kerja, yaitu:
a. Kerja
yang secara mental menantang
Karyawan
cenderung menyukai pekerjaan-pekerjaan yang member mereka kesempatan untuk
menggunakan keterampilan dan kemampuan mereka dan menawarkan tugas, kebebasan
dan umpan balik mengenai betapa baik mereka mengerjakan tugas tersebut.
Karakteristik ini membuat kerja secara mental menantang. Pekerjaan yang kurang
menantang menciptakan kebosanan, sebaliknya jika terlalu banyak pekerjaan menantang
dapat menciptakan frustrasi dan perasaan gagal. Pada kondisi tantangan yang
sedang, kebanyakan karyawan akan mengalamai kesenangan dan kepuasan dalam
bekerja.
b. Ganjaran
yang pantas
Para
karyawan menginginkan pemberian upah dan kebijakan promosi yang mereka
persepsikan adil dan sesuai dengan harapan mereka. Bila upah dilihat adil yang
didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individu, dan standar
upah karyawan, kemungkinan besar akan mengahsilkan kepuasan. Tentu saja, tidak
semua orang mengejar uang. Banyak orang bersedia menerima uang yang lebih kecil
untuk bekerja dalam lokasi yang lebih diinginkan atau dalam pekerjaan yang kurang
menuntut atau mempunyai keleluasaan yang lebih besar dalam kerja yang mereka
lakukan dan jam-jam kerja. Intinya bahwa besarnya upah bukanlah jaminan untuk
mencapai kepuasan, namun yang lebih penting adalah persepsi keadilan. Sama
dengan karyawan yang berusaha mendapatkan kebijakan dan promosi yang lebih
banyak, dan status sosial yang ditingkatkan. Oleh karena itu individu-individu
yang mempersepsikan bahwa keputusan promosi dibuat dalam cara yang adil kemungkinan
besar akan mendapatkan kepuasan dari pekerjaan mereka.
c. Kondisi
kerja yang mendukung
Karyawan perduli
akan lingkungan kerja baik untuk kenyamanan pribadi maupun untuk memudahkan
mengerjakan tugas. Studi-studi memperagakan bahwa karyawan lebih menyukai
lingkungan kerja yang tidak berbahaya. Seperti temperatur, cahaya, kebisingan,
dan factor lingkungan lain harus diperhitungkan dalam pencapaian kepuasan
kerja.
d. Rekan
kerja yang mendukung
Karyawan akan mendapatkan lebih daripada
sekedar uang atau prestasi
yang berwujud dari dalam kerja. Bagi kebanyakan
karyawan, kerja juga
mengisi kebutuhan akan interaksi sosial. Oleh karena
itu sebaiknya karyawan mempunyai rekan sekerja yang ramah dan mendukung. Hal
ini penting dalam mencapai kepuasan kerja. Perilaku atasan juga merupakan determinan
utama dari kepuasan. Umumnya studi mendapatkan bahwa kepuasan karyawan ditingkatkan
bila atasan langsung bersifat ramah dan dapat memahami, menawarkan pujian untuk
kinerja yang baik, mendengarkan pendapat karyawan, dan menunjukkan suatu minat
pribadi pada mereka.
e.
Kesesuaian kepribadian dengan pekerjaan
Pada
hakikatnya orang yang tipe kepribadiannya sama dengan pekerjaan yang mereka
pilih seharusnya mereka mempunyai bakat dan kemampuan yang tepat untuk memenuhi
tuntutan dari pekerjaan mereka. Dengan demikian akan lebih besar kemungkinan
untuk berhasil pada pekerjaan tersebut, dan lebih memungkinkan untuk mencapai
kepuasan yang tinggi dari pekerjaan mereka.
C. Faktor
penentu kepuasan
a.
Pekerjaan
itu sendiri, setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu sesuai
dengan bidang nya masing-masing. Sukar tidaknya suatu pekerjaan serta perasaan
seseorang bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut, akan
meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja.
b.
Atasan(Supervision),
atasan yang baik berarti mau menghargai pekerjaan bawahannya. Bagi bawahan,
atasan bisa dianggap sebagai figur ayah/ibu/teman dan sekaligus atasannya.
c.
Teman
sekerja (Workers), merupakan faktor yang berhubungan dengan hubungan antara
pegawai dengan atasannya dan dengan pegawai lain, baik yang sama maupun yang
berbeda jenis pekerjaannya.
d.
Promosi(Promotion),
merupakan faktor yang berhubungan dengan ada tidaknya kesempatan untuk
memperoleh peningkatan karir selama bekerja.
e.
Gaji/Upah(Pay),
merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang dianggap layak atau
tidak.
sumber :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26085/4/Chapter%20II.pdf
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&ved=0CCQFjAC&url=http%3A%2F%2Fsupiani.staff.gunadarma.ac.id%2FPublications%2Ffiles%2F1178%2FTEORI%2BTEORI%2BMOTIVASI.doc&ei=PjNcVJvqL4OwuQS6-IHIAQ&usg=AFQjCNGxWs54tVsUqC_37icnuONGsiBZ-g&sig2=KpRoK5cxaxa6H4b4O_ilUQ&bvm=bv.79184187,d.c2E
http://cintaluna-lovelyluna-psikologi.blogspot.com/2009/12/kepuasan-kerja.htmlr=
Tidak ada komentar:
Posting Komentar